Press Release
December
06
2017
     15:20

Tingkatkan Daya Saing Ekonomi Lewat BUMN Holding

Tingkatkan Daya Saing Ekonomi Lewat BUMN Holding

JAKARTA. Ada tiga perusahaan badan usaha milik negara (BUMN) yang menguasai pasar semen Indonesia sejak tahun 1909 sampai 1974.  Ketiga BUMN itu adalah Semen Padang, Semen Gresik, dan Semen Tonasa. 

Kedidgayaan BUMN swasta itu tidak terbendung selama 65 tahun sampai hadirnya perusahaan swasta di setor industri semen nasional. Akibatnya pada tahun 1984-1989 dominasi BUMN tidak lagi terlihat. Bahkan market share ketiga BUMN di pasar semen hanya sebesar 31,4 persen. 

Kondisi inilah yang membuat pemerintah bergerak cepat. Berbagai langkah inovasi disiapkan untuk kembali menyelamatkan ketiga BUMN semen itu agar kembali mampu berbicara di industri semen nusantara. Salah satu caranya adalah dengan membentuk perusahaan induk (holding) semen di Indonesia. 

Tujuan pembentukan holding sendiri sebenarnya juga sudah sangat mendesak. Selain menyelamatkan pasar dalam negeri, kehadiran holding BUMN semen juga diharapkan mampu berbicara di tingkat global. Harapannya agar bisa menyaingi BUMN negara tetangga, Singapura yaitu Temasek. 

Bayangkan sejak tahun 1974, aset Temasek sudah tembus 275 miliar dollar Singapura (sekitar Rp 2.750 triliun). Begitu pula dengan Khazanah Nasional, BUMN dari negeri Jiran Malaysia yang asetnya juga sampai ribuan triliun. 

Tentunya dasar pembentukan BUMN itu sesuai dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN. Regulasi yang terbaru adalah Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 72 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2005 tentang Tata Cara Penyertaan dan Penatausahaan Modal Negara pada Badan Usaha Milik Negara dan Perseroan Terbatas.

Maka atas dasar itulah terbentuklah BUMN holding yang pertama yaitu PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. Perusahaan itu menjadi induk bagi Semen Gresik, Semen Padang, dan Semen Tonasa.

Menurut Sekretaris Perusahaan Semen Indonesia Agung Wiharto, awal terbentuknya perusahaan induk tersebut dimulai sejak 1995, dan setelah itu kekuatan organisasi perlahan meningkat.

"Dengan bergabung jadi satu, kami tak perlu membangun pabrik sendiri-sendiri. Selain itu, sumber daya manusia terbaik dapat kami hadirkan di perusahaan induk," ujar Agung dalam Forum Merdeka Barat 9 bertajuk "Mengapa Perlu Holding BUMN?", Selasa (5/12/2017), di Jakarta.

Beberapa tahun setelah terbentuk, perusahaan induk industri semen itu berhasil menorehkan catatan positif. Jika pada 2014 volume penjualan total domestik dan regional sebesar 28,5 juta ton, pada 2016 angkanya menyentuh 29,1 juta ton.

Ia melanjutkan, pasca penggabungan itu Semen Indonesia juga mampu memperluas jangkauan pemasaran hingga seluruh Indonesia.

"Tantangan bisnis semen adalah distribusi dan logistik. Sekarang kami memiliki semua itu setelah menjadi satu," ucap Agung.

Geliat bisnis itu sebagaimana tercermin dari kinerja Semen Indonesia saat ini. Korporasi itu menjadi raja penjualan semen domestik dengan pangsa pasar mencapai 47,1 persen. Dengan penjualan yang digdaya itu, Semen Indonesia berhasil membukukan pendapatan Rp 26,134 triliun pada 2016.

Puas dengan BUMN holding semen, Pemerintah kembali membentuk perusahaan induk BUMN di bidang pertambangan yaitu PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum). BUMN itu menjadi induk atas PT Aneka Tambang (Persero) Tbk, PT Timah (Persero) Tbk, dan PT Bukit Asam (Persero) Tbk.

Staf Khusus Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Wianda Pusponegoro mengatakan, hadirnya perusahaan induk pertambangan itu memberi dampak positif bagi Tanah Air. Sebagai contoh, proses hilirisasi tambang dapat terwujud di dalam negeri. 

"Hakikat BUMN adalah menjadi agen pembangunan nasional. Demikian pula, dalam hal pengelolaan sumber daya alam harus menguntungkan segenap masyarakat," tuturnya.

Kehadiran perusahaan induk, lanjut Wianda, berdampak positif untuk mempercepat laju kinerja BUMN. Efisiensi dapat terwujud baik dari segi pengambilan keputusan strategis maupun anggaran.

Bersatunya sejumlah entitas bisnis sejenis membuat alat operasional dapat dipakai bersama-sama. Hal itu tentu menghemat pengeluaran dibandingkan jika setiap BUMN melakukan investasi sendiri-sendiri.

"Ke depan, perusahaan induk BUMN diharapkan terwujud pada sektor perbankan, pangan, perumahan, migas, serta konstruksi dan jalan tol," imbuh Wianda.

Kontribusi besar

Bisa dibilang, kehadiran BUMN sangat diperlukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan jumlah 118 BUMN pada 13 sektor, total aset BUMN nasional mencapai Rp 6.694 triliun per semester I tahun 2017. Pendapatan pun menyentuh Rp 936 triliun.

Adapun kontribusi pajak dan dividen BUMN terhadap anggaran pendapatan belanja negara (APBN) juga relatif stabil. Pada 2014 angkanya sebesar Rp 211 triliun. Kemudian, pada 2016 kontribusinya sebesar Rp 203 triliun.

Menurut Direktur Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan Isa Rachmatawarta hadirnya perusahaan induk diharapkan mampu meningkatkan investasi BUMN. Dengan begitu, BUMN dapat meraih tambahan modal tanpa bergantung pada APBN. "Kondisi itu membuat APBN bisa dialihkan untuk kebutuhan sosial lain, misalnya pemerataan pembangunan daerah pinggiran," ujar Isa.

Dia memastikan, proses pembentukan perusahaan induk tidak mengurangi kontribusi BUMN terhadap negara, yaitu setoran pajak dan dividen.

Ketangguhan BUMN itu selaras dengan semangat Nawacita pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Utamanya dalam mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis domestik dan meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing bangsa.

Berdasarkan laporan Global Competitiveness Index 2017-2018 yang dikeluarkan World Economic Forum, peringkat daya saing Indonesia terus membaik. Saat ini Indonesia menempati posisi ke-36 dari 137 negara atau naik 5 peringkat dari tahun sebelumnya di posisi ke-41.

Dengan besarnya dampak kehadiran BUMN bagi negara, sudah selayaknya kita terus menaruh harapan. Demi  satu tujuan, kesejahteraan bagi segenap tumpah darah Indonesia.


Terpopuler

Pedagang online wajib mendaftarkan diri

Senin, 18 Desember 2017 | 06:39 WIB WIB

Jokowi: Lima tahun ke depan ada peluang US$ 130 M

Senin, 18 Desember 2017 | 21:52 WIB WIB

Menhub ajak netizen viralkan keselamatan terbang

Senin, 18 Desember 2017 | 10:39 WIB WIB

Divestasi Freeport Indonesia batal?

Senin, 18 Desember 2017 | 11:17 WIB WIB

Jelang akhir tahun, cermati saham pilihan ini

Senin, 18 Desember 2017 | 06:00 WIB WIB