Press Release
June
12
2021
     13:29

Baik di Ranah Publik Maupun Privat, Waspadai Jejak Digital yang Ditinggalkan

Baik di Ranah Publik Maupun Privat, Waspadai Jejak Digital yang Ditinggalkan

KONTAN.CO.ID - Jakarta, 11 Juni 2021– Secara umum, literasi digital sering kita anggap sebagai kecakapan menggunakan internet dan media digital. Namun begitu, acap kali ada pandangan bahwa kecakapan penguasaan teknologi adalah kecakapan yang paling utama. Padahal literasi digital adalah sebuah konsep dan praktik yang bukan sekadar menitikberatkan pada kecakapan untuk menguasai teknologi. Seorang pengguna yang memiliki kecakapan literasi digital yang bagus tidak hanya mampu mengoperasikan alat, melainkan juga mampu bermedia digital dengan penuh tanggung jawab.

Dengan diluncurkannya Program Literasi Digital Nasional, Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa “Infrastruktur digital tidak berdiri sendiri; saat jaringan internet sudah tersedia, harus diikuti kesiapan-kesiapan penggunanya agar manfaat positif internet dapat dioptimalkan untuk membuat masyarakat semakin cerdas dan produktif.”

Dalam rangka mendukung Program Literasi Digital Nasional, Kominfo bekerja sama dengan Jaringan Pegiat Literasi Digital (Japelidi) dan Siberkreasi Gerakan Nasional Literasi Digital untuk meluncurkan Seri Modul Literasi Digital yang memfokuskan pada empat tema besar; Cakap Bermedia Digital, Budaya Bermedia Digital, Etis Bermedia Digital, dan Aman Bermedia Digital. Diharapkan dengan adanya seri modul ini, masyarakat Indonesia dapat mengikuti perkembangan dunia digital secara baik, produktif, dan sesuai nilai-nilai yang dijunjung tinggi dalam kehidupan berbudaya, berbangsa, dan bernegara.

Proses sosialisasi dan pendalaman Seri Modul Literasi Digital dilakukan dalam ranah media digital pun, dalam bentuk seri webinar Indonesia #MakinCakapDigital yang menjangkau sebanyak 514 Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia. Pada Jumat, 11 Juni 2021 pukul 14:00-16:20 WIB, webinar dengan tema “Etika Berjejaring, Mulutmu Harimaumu!” diselenggarakan khusus bagi 14 Kabupaten/Kota di wilayah DKI Jakarta dan Banten. Webinar ini mengundang narasumber dari berbagai bidang keahlian dan profesi, yaitu Trisno Sakti Herwanto, S.I.P., M.P.A. (IAPA), Mario Anthonius Birowo, Ph.D. (Staff Pengajar Universitas Atma Jaya Yogyakarta), Sigit Widodo (Internet Development Institute), dan Rizqika Alya Anwar (Kaizen Room).

Tema yang dibahas oleh masing-masing narasumber meliputi digital skills, digital ethics, digital culture, dan digital safety. Trisno Sakti Herwanto, S.I.P., M.P.A mengawali webinar dengan topik mengenai pentingnya mengenal macam-macam aplikasi percakapan, perbedaan, dan fitur-fiturnya. Melihat data bahwa platform media sosial yang paling aktif digunakan di Indonesia adalah YouTube dengan 43% pengguna (disusul oleh Facebook, WhatsApp dan Instagram), menurutnya menjadi penting untuk memiliki kemampuan literasi digital, yaitu penguasaan teknologi dengan penuh tanggung jawab. “Dalam melindungi data pribadi kita, sangat erat kaitannya dengan cara kita perilaku di ruang publik. Kita perlu ingat bahwa terdapat ranah publik dan privat di dunia maya; ranah publik berkaitan dengan ranah kolektif (isu dan kepentingan bersama warga), dan ranah privat berkaitan dengan ranah individu. Walau begitu, ranah privatpun masih berisiko meninggalkan jejak digital pengguna, sehingga perlu selalu waspada terhadap apa yang kita lakukan di ranah digital,” jelasnya.

Mario Anthonius Birowo, Ph.D. melanjutkan webinar dengan membahas penggunaan bahasa yang baik di dunia digital. “Menurut data oleh Kompas, cyberbullying tertinggi terjadi pada media sosial Instagram. Perundungan dan konten negatif banyak menyebabkan korban mengalami depresi mental,” ia jelaskan. Ia juga tekankan mengenai pentingnya etis bermedia sosial, khususnya bagi pengguna media digital Indonesia mengingat bahwa dalam survey oleh Microsoft pada 2020, netizen Indonesia dinilai paling tidak sopan se-Asia Tenggara.

Sigit Widodo kemudian memberi pemaparan dengan judul “Bijak di Kolom Comment”. Ia ingatkan bahwa “Dunia maya bukan dunia lain; internet bukan dunia yang sama sekali terpisah dengan dunia offline. Apa yang kita tulis di internet akan dibaca oleh orang lain, begitu juga dengan foto dan video kita akan disaksikan oleh orang lain. Di ujung sana, ada manusia yang sebagian kita kenal, namun sebagian besar tidak kita kenal sama sekali.” Berdasarkan fakta itu, ia juga memaparkan bahwa semua yang kita kirimkan ke jaringan publik harus dianggap tidak bisa dihapus. “Semua hal dalam bentuk digital dapat dengan mudah disalin dan disebarkan, sehingga jejak digital akan terekam di banyak tempat. Oleh karena itu, sebelum mem-posting, pertimbangkan reaksi dan respon orang yang melihat kiriman Anda,” ia sampaikan.

Rizqika Alya Anwar lalu melanjutkan pembahasan dengan mengangkat topik “Dunia Maya dan Rekam Jejak Digital”. “Pada dasarnya, digital safety merupakan kemampuan individu dalam mengenali, mempolakan, menerapkan, menganalisis, dan meningkatkan tingkat keamanan digital dalam kehidupan sehari-hari untuk kegiatan positif dan tidak merugikan diri sendiri atau orang lain, serta lebih bijak dalam menggunakan fasilitas tersebut,” jelasnya. Terkait itu, ia juga memaparkan mengenai prinsip tangkas berinternet, yaitu cerdas berinternet, cermat berinternet, tangguh berinternet, bijak berinternet, dan berani berinternet.

Pertanyaan dari peserta pun muncul terkait fenomena hate speech yang semakin marak di media sosial, bahkan adanya kecenderungan masyarakat Indonesia khusus membuat second account untuk menebarkan hate speech; apakah ke depannya hal ini akan menjadi perhatian khusus bagi masyarakat untuk memberikan pendidikan wajib tentang literasi media agar bijak bermedia? Para narasumber menjawab bahwa tentu saja, hal itu menggaris bawahi pentingnya menguasai digital skills, digital culture, digital ethics, dan digital safety. Dengan mengetahui itu, kita pun harus tetap bijak, positif dan beredukasi ketika menggunakan media sosial.

Seperti yang dikatakan oleh Presiden Joko Widodo, “Literasi digital adalah kerja besar. Pemerintah tidak bisa bekerja sendirian. Perlu mendapatkan dukungan seluruh komponen bangsa agar semakin banyak masyarakat yang melek digital.” Ia juga memberikan apresiasi pada seluruh pihak yang terlibat dalam Program Literasi Digital Nasional. “Saya harap gerakan ini menggelinding dan terus membesar, bisa mendorong berbagai inisiatif di tempat lain, melakukan kerja-kerja konkrit di tengah masyarakat agar makin cakap memanfaatkan internet untuk kegiatan edukatif dan produktif,” ujar Presiden Joko Widodo.

Seri webinar Indonesia #MakinCakapDigital terbuka bagi siapa saja yang ingin menambah wawasan dan pengetahuan mengenai literasi digital, sehingga sangat diharapkan partisipasi aktif dari seluruh lapisan masyarakat. Rangkaian webinar ini akan terus diselenggarakan hingga akhir 2021, dengan berbagai macam tema yang pastinya mendukung kesiapan masyarakat Indonesia dalam bermedia digital secara baik dan etis. Para peserta juga akan mendapatkan e-certificate atas keikutsertaan webinar. Untuk info lebih lanjut, silakan pantau akun Instagram @siberkreasi.dkibanten.