Press Release
September
14
2021
     14:00

Jangan Lupa untuk Lindungi diri Saat Online

Jangan Lupa untuk Lindungi diri Saat Online

KONTAN.CO.ID - Kabupaten Serang, 8 September 2021 Tak dapat dipungkiri, perkembangan dunia digital telah menyasar ke segala sisi kehidupan. Saat ini, rasanya hampir tidak ada sisi kehidupan manusia yang tidak terpengaruh proses digitalisasi.

Namun, masih banyak pengguna internet yang hanya mampu menerima informasi tanpa kemampuan memahami dan mengolah informasi tersebut secara baik, sehingga masih banyak masyarakat terpapar oleh informasi yang tidak benar.

Menyikapi hal itu, maka baru-baru ini Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menggelar seri webinar literasi digital #MakinCakapDigital dengan tema "Menjadi Warganet yang Beradab". Webinar yang digelar pada Rabu, 8 September 2021 di Kabupaten Serang, diikuti oleh puluhan peserta secara daring.

Webinar ini mengundang narasumber dari berbagai bidang keahlian dan profesi, yakni Erista Septianingsih – Kaizen Room, Anang Dwi Santoso, SIP, MPA – Dosen Universitas Sriwijaya, Wulan Tri Astuti, S.S., M.A, - Dosen Ilmu Budaya UGM, dan Novita Sari – Aktivis Kepemudaan Lintas Iman.

Tema yang dibahas oleh masing-masing narasumber meliputi digital skills, digital ethics, digital culture, dan digital safety. Erista Septianingsih membuka webinar dengan mengatakan, seseorang yang beradab akan selalu menjalani hidupnya dengan aturan dan tata cara.

"Karakteristik digital society yakni senang mengekspresikan diri. Tidak ragu untuk mendownload dan upload. Berinteraksi di media sosial. Cenderung tidak menyukai aturan yang mengikat. Terbiasa untuk belajar bukan dari instruksi melainkan dengan mencari," jelasnya.

Apapun aktivitas kita di dunia digital, akan menjadi personal branding kita, di zaman sekarang mungkin HRD akan mencari tahu informasi tentang kita melalui sosial media maka dari itu kita semua harus paham mengenai etika berdigital.

Menurutnya, beradab di media sosial bisa dilakukan dengan menjaga etika dalam berkomunikasi, hindari menyebarkan konten yang berbau SARA, pornografi, dan kekerasan.  Saring sebelum sharing. Menghargai karya orang lain, dan menjaga informasi pribadi. Sebarkan konten positif dan bermanfaat.

Anang Dwi menambahkan, bahwa tingkat keberadaban (civility) netizen Indonesia sangat rendah. Laporan yang didasarkan atas survei pada 16.000 responden di 32 negara antara April-Mei 2020, menunjukkan Indonesia ada di peringkat 29.

Hal itu salah satunya disebabkan maraknya risiko terjadinya penyebarluasan berita bohong atau hoaks, ujaran kebencian atau hate speech, diskriminasi, misogini, cyberbullying, trolling atau tindakan sengaja untuk memancing kemarahan, micro-aggression atau tindakan pelecehan terhadap kelompok marginal.

Literasi digital untuk masyarakat positif menurut Paul Gilster, adalah kemampuan untuk memahami dan menggunakan informasi dalam berbagai bentuk dari berbagai sumber yang sangat luas yang di akses melalui piranti computer.

"Pentingnya literasi digital adalah upaya untuk memperkuat kemampuan melawan konten negatif, yang tersebar di internet dan meningkatkan kapasitas masyarakat menghadapi Revolusi Industri 4.0 serta menciptakan masyarakat dengan pola pikir kritis-kreatif untuk memproduksi konten positif," ungkapnya.

Wulan Tri turut menjelaskan, pendidikan media/literasi media dimaksudkan untuk melindungi warga masyarakat sebagai konsumen media dari dampak negatif media massa. Sisi negatif penyalahgunaan perkembangan teknologi yakni, penipuan melalui internet seperti pada transaksi online, hacker, hingga aksi pendukung teroris.

"Literasi media sebagai kemampuan untuk mengakses, mengevaluasi dan mengkomunikasikan pesan dalam berbagai bentuknya. Pada sisi lain, pendidikan media merupakan bentuk pemberdayaan khalayak media," tuturnya,

Menurutnya, tingkat kepuasan penggunaan internet juga memberikan efek pada budaya di masyarakat yang mempengaruhi budaya digital dalam masyarakat ketika bersosialisasi. Kepuasan penggunaan internet dengan literasi digital seharusnya seimbang, agar pemanfaatan teknologi dapat berjalan sesuai dgn kesadaran masyarakat dalam mempergunakan teknologi tersebut.

"Penggunaan gadget harus sesuai dengan konten yang bermanfaat bagi pengembangan diri, kecerdasan yang positif dan pengembangan relasi individu dengan lingkungannya. Banyak kejadian penggunaan internet yang menyeret anak- anak dalam pergaulan bebas dan juga menyebabkan mereka menjadi korban kekerasan dan moral," ungkapnya.

Secara umum, literasi digital sering kita anggap sebagai kecakapan menggunakan internet dan media digital, padahal literasi digital adalah sebuah konsep dan praktik yang bukan sekadar menitikberatkan pada kecakapan untuk menguasai teknologi. Seorang pengguna dengan kecakapan literasi digital yang bagus mampu mengoperasikan alat dan mampu bermedia digital dengan penuh tanggung jawab.

Sebagai pembicara terakhir, Novita Sari menjelaskan, saat ini orang-orang bisa mengakses informasi secara instan dan mudah yang membuat kita lebih cerdas karena mendapatkan lebih banyak informasi dibandingkan jaman dulu.

"Untuk itu diperlukan digital safety pada era digital ini, karena penting bagi kita untuk tetap smart saat berinteraksi secara online. Jangan lupa untuk lindungi diri saat online karena di dunia digital banyak sekali anonym," paparnya.

Dalam sesi KOL, Tyra Lundy mengatakan, program literasi digital ini penting, karena kalau tidak dibekali dengan literasi yang baik akan sangat disayangkan sebab sekarang sudah zamannya serba digital.

"Beretika itu sama seperti kita di dunia nyata, walaupun banyak netizen yang memberikan komentar negatif. Penting banget kita harus memiliki edukasi, dan juga beradab menjadi warganet," katanya.

Dalam webinar ini, para partisipan yang hadir juga dipersilahkan untuk mengutarakan pertanyaan dan tanggapan. Salah satu peserta bernama Wilda Yuliani menanyakan, bagaimana cara kita sebagai orang tua dapat membatasi informasi yang masuk kepada keluarga, agar terhindar dari informasi yang tidak benar?

"Pertama periksa sumbernya, namun jika disebar oleh akun-akun yang tidak kredibel itu harus hati-hati kemudian periksa kontennya, cek tanggalnya, cek narasinya apakah menyudutkan kelompok tertentu. Berkaitan dengan proteksi anak-anak adalah biasakan lakukan dialog dengan anak untuk bangun komunikasi aktif yang baik antara orang tua dan anak," jawab Anang.

Webinar ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan literasi digital di Kabupaten Serang. Kegiatan ini pun terbuka bagi semua orang yang berkeinginan untuk memahami dunia literasi digital. Untuk itulah penyelenggara pada agenda webinar selanjutnya, membuka peluang sebesar-besarnya kepada semua anak bangsa untuk berpartisipasi pada webinar ini melalui Instagram @siberkreasi.dkibanten dan @siberkreasi.

Kegiatan webinar ini juga turut mengapresiasi partisipasi dan dukungan semua pihak, sehingga dapat berjalan dengan baik, terutama kepada Kominfo. Mengingat program literasi digital ini hanya akan berjalan dengan baik dan mencapai target 12,5 juta partisipan, jika turut didukung oleh semua pihak.


Terbaru

Banyak Efek Positif Dari Perkembangan Teknologi

KOMINFO | Senin, 20 Desember 2021 | 12:15 WIB

Selain Positif, Kemajuan Digital Memiliki Dampak Negatif

KOMINFO | Minggu, 19 Desember 2021 | 11:47 WIB

Digitalisasi Membawa Perubahan Dalam Kehidupan Masyarakat

KOMINFO | Minggu, 19 Desember 2021 | 11:40 WIB

Media Digital Bisa Digunakan Sebagai Ruang Diskusi

KOMINFO | Minggu, 19 Desember 2021 | 11:28 WIB

Terjadi Pergeserean Pola Pikir di Masyarakat

KOMINFO | Minggu, 19 Desember 2021 | 11:22 WIB

Cyberbullying Meninggalkan Jejak Digital

KOMINFO | Minggu, 19 Desember 2021 | 11:15 WIB

Netiket Sangat Penting di Media Digital

KOMINFO | Minggu, 19 Desember 2021 | 11:05 WIB

Internet Bagai Pisau Bermata Dua

KOMINFO | Minggu, 19 Desember 2021 | 10:55 WIB