Press Release
October
11
2021
     13:00

Kelemahan Pengguna Media Digital dalam Menjaga Keamanan Data Pribadi

Kelemahan Pengguna Media Digital dalam Menjaga Keamanan Data Pribadi

KONTAN.CO.ID - Saat ini kita sudah memasuki era industri 4.0, yang berkembang dari tahun 1784 dengan industri 1.0, tahun 1870 dengan industri 2.0, tahun 1969 dengan industri 3.0 dan sekarang 4.0. Pengguna internet di Indonesia pada awal 2021 mencapai 202,6 juta jiwa, dan total jumlah penduduk Indonesia sendiri saat ini adalah 274,9 juta jiwa. Artinya, penetrasi internet di Indonesia pada awal 2021 mencapai 73,7 persen. Hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak warga negara Indonesia yang merasakan manfaat dari penggunaan internet dan media digital. Namun dalam ruang digital ini bukan hanya ada dampak positif saja, tapi juga ada dampak negatifnya, salah satunya adalah penipuan.

Menyikapi hal itu, maka lembaga Kominfo bekerja sama dengan Jaringan Pegiat Literasi Digital (Japelidi) dan Siberkreasi Gerakan Nasional Literasi Digital dalam menggelar webinar dengan tajuk “Keamanan Berinternet: Mencegah Penipuan di Ranah Daring”. Webinar yang digelar pada Rabu, 6 Oktober 2021, pukul 13:00-15:30 diikuti oleh sejumlah peserta secara daring.

Dalam forum tersebut hadir Bondan Wicaksono (Akademisi & Penggiat Masyarakat Digital), Dr. Arfian, M.Si. (Dosen & Konsultan SDM), Maureen Hitipeuw (Founder Single Mom Indonesia), Septa Dinata, A.S., M.Si. (Peneliti Paramadina Public Policy Institute), dan Gina Sinaga (Public Speaker & Founder @wellness_worthy) selaku narasumber.

Dalam pemaparannya, Bondan Wicaksono menyampaikan informasi penting bahwa “Menurut katadata.co.id, lika-liku penipuan online bermodus magis sepanjang 2019, kepolisian mencatat ada sekitar 1,671 laporan masyarakat terkait penipuan daring menggunakan teknik Manipulasi Psikologis (magis). Kelemahan pengguna teknologi dalam menjaga kerahasiaan informasi pribadi memuluskan aksi pelaku kejahatan siber tanpa perlu meretas sistem. Sepanjang 2019-2020, setidaknya terdapat 39,3 juta serangan siber di Indonesia. Angkanya melonjak hampir lima kali lipat setahun setelahnya. BSSN melaporkan ditemukan 189,9 juta hingga Juli lalu, termasuk serangan terhadap situs internet, pengumpulan informasi, dan trojan. Trojan dapat diartikan sebagai serangan yang dapat diam-diam menginstalkan diri dan mencuri data pengguna terkait. Kemajuan teknologi internet memudahkan berbagai hal mulai dari berbagi informasi hingga proses jual beli barang atau jasa melalui berbagai macam aplikasi. Namun demikian, terdapat oknum-oknum yang memanfaatkan kemajuan teknologi tersebut dengan melakukan kejahatan siber, kejahatan digital SMS, telepon, email bahkan dalam bentuk virus serta pembajakan/peretasan akun dan cloning platform yang kita miliki.”

Gina Sinaga selaku narasumber Key Opinion Leader juga menyampaikan bahwa ia pernah mengalami penipuan sendiri saat sedang kerja dan ditelepon saat jam kerja, dan ternyata teman-temannya juga mengalaminya. Menurutnya ada 2 faktor kenapa si penipu memilih jam kerja; pertama, penipu bisa menelpon dengan memburu-burui kita, jadi seakan-akan kita racing dan akhirnya kita jawab terus pertanyaan mereka tanpa kita sadari. Makanya kuncinya penting sekali untuk mindful dan sadar dengan siapapun yang menelpon karena bisa saja itu peluang penipuan. Hal yang kedua adalah saat ada yang mengatasnamakan dirinya dengan membuat account lain memakai foto dan namanya, lalu chatting dengan teman-temannya.

Para partisipan yang hadir juga dipersilahkan untuk mengutarakan pertanyaan dan tanggapan. Salah satu peserta bernama Fita Anggraini menyampaikan pertanyaan “Saat ini di Facebook, Instagram, Twitter, dan lainnya banyak sekali mengadakan program giveaway yang jika menang kita harus melampirkan data pribadi berupa KTP ataupun juga NPWP. Menurut Bapak bagaimana tentang hal tersebut; apakah ada jaminan data kita akan aman? Jika kita tidak mau mengirimkan data pribadi tersebut hadiah kita akan hangus; bahkan akun-akun official pun menerapkan hal tersebut.”

Pertanyaan tersebut pun dijawab dengan lugas oleh Septa Dinata, A.S., M.Si., bahwa “Kita perlu tanyakan secara kritis, seperti saat kita memberikan data kita itu sebenarnya tidak masalah asalkan ada jaminan data kita betul-betul terlindungi dengan baik dan digunakan sesuai dengan tujuan data tersebut diminta. Kita juga bisa melihat reputasi dari siapa kita berurusan; kalau bermasalah termasuk dalam dunia e-commerce (kebocoran data) kita bisa mengambil keputusan dengan kompromi.”

Webinar ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan literasi digital di Kota Jakarta Utara. Kegiatan ini pun terbuka bagi semua orang yang berkeinginan untuk memahami dunia literasi digital. Untuk itulah penyelenggara pada agenda webinar selanjutnya, membuka peluang sebesar-besarnya kepada semua anak bangsa untuk berpartisipasi pada webinar ini melalui akun Instagram @siberkreasi.dkibanten. Juga, bagi yang ingin mengetahui tentang Gerakan Nasional Literasi Digital secara keseluruhan bisa ikuti akun Instagram @siberkreasi.

Kegiatan webinar ini juga turut mengapresiasi partisipasi dan dukungan semua pihak, sehingga dapat berjalan dengan baik, mengingat program literasi digital ini hanya akan sukses mencapai target 12,5 juta partisipan jika turut didukung oleh semua pihak yang terlibat.


Tags Kominfo