Press Release
June
10
2021
     19:55

Sifat Serakah dan Iba Jadi Penyebab Utama Terjerat Modus Penipuan di Ranah Digital

Sifat Serakah dan Iba Jadi Penyebab Utama Terjerat Modus Penipuan di Ranah Digital

Jakarta, 9 Juni 2021– Secara umum, literasi digital sering kita anggap sebagai kecakapan menggunakan internet dan media digital. Namun begitu, acap kali ada pandangan bahwa kecakapan penguasaan teknologi adalah kecakapan yang paling utama. Padahal literasi digital adalah sebuah konsep dan praktik yang bukan sekadar menitikberatkan pada kecakapan untuk menguasai teknologi. Seorang pengguna yang memiliki kecakapan literasi digital yang bagus tidak hanya mampu mengoperasikan alat, melainkan juga mampu bermedia digital dengan penuh tanggung jawab.

Dengan diluncurkannya Program Literasi Digital Nasional, Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa “Infrastruktur digital tidak berdiri sendiri; saat jaringan internet sudah tersedia, harus diikuti kesiapan-kesiapan penggunanya agar manfaat positif internet dapat dioptimalkan untuk membuat masyarakat semakin cerdas dan produktif.”

Dalam rangka mendukung Program Literasi Digital Nasional, Kominfo bekerja sama dengan Jaringan Pegiat Literasi Digital (Japelidi) dan Siberkreasi Gerakan Nasional Literasi Digital untuk meluncurkan Seri Modul Literasi Digital yang memfokuskan pada empat tema besar; Cakap Bermedia Digital, Budaya Bermedia Digital, Etis Bermedia Digital, dan Aman Bermedia Digital. Diharapkan dengan adanya seri modul ini, masyarakat Indonesia dapat mengikuti perkembangan dunia digital secara baik, produktif, dan sesuai nilai-nilai yang dijunjung tinggi dalam kehidupan berbudaya, berbangsa, dan bernegara.

Proses sosialisasi dan pendalaman Seri Modul Literasi Digital dilakukan dalam ranah media digital pun, dalam bentuk seri webinar Indonesia #MakinCakapDigital yang menjangkau sebanyak 514 Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia. Pada Rabu, 9 Juni 2021 pukul 13:00-15:30 WIB, webinar dengan tema “Jangan Iya-Iya Saja, Pahami Agar Tidak Terjebak Penipuan Online” diselenggarakan khusus bagi 14 Kabupaten/Kota di wilayah DKI Jakarta dan Banten. Webinar ini mengundang narasumber dari berbagai bidang keahlian dan profesi, yaitu Muhammad Bima Januri, S.T., M.Kom. (Co-Founder Localin), I Gusti Putu Agung Widya Goca, S.E., M.M. (IAPA), Yoshe Angela (Kaizen Room), dan Dr. Lisa Adhrianti, S.Sos., M.Si. (Dosen Universitas Bengkulu & Japelidi).        

Tema yang dibahas oleh masing-masing narasumber meliputi digital skills, digital ethics, digital culture, dan digital safety. Dalam hal digital skills, Muhammad Bima Januri, S.T., M.Kom. menjelaskan mengapa sebagian besar pengguna media digital masih saja bisa tertipu di ranah digital. “Penipuan digital secara teknis bersifat social engineering dengan ragam bentuk, dari terima SMS, telepon, e-mail dan cloning platform yang kita miliki. Sebab orang bisa tertipu saat bermedia digital sebagian besar adalah karena keserakahan dan iba. Serakah misalnya karena sangat ingin memenangkan hadiah, diskon, ataupun mendapatkan akses terhadap sesuatu. Sedangkan untuk iba, biasanya tertipu untuk melakukan donasi yang beralaskan sikap yang simpatisan,” jelasnya.

Pembahasan selanjutnya oleh I Gusti Putu Agung Widya Goca, S.E., M.M. mengajak peserta untuk lebih memahami dan menghindari penipuan digital. “Modus penipuan digital mengarah pada penipuan yang menimbulkan kerugian secara finansial, antara lain penipuan harga diskon, identitas pelaku usaha atau konsumen fiktif, dan ketidaksesuaian barang atau produk yang diterima dengan yang dipesan,” ujarnya. Penipuan digital termasuk tipe kejahatan digital tertinggi di Indonesia, dan setidaknya terdapat empat kategori yaitu Scam, Spam, Phishing, dan Hacking,” ia tambahkan, sekaligus mengingatkan peserta untuk lebih mendalami pengetahuan mengenai keempat kategori penipuan ini.

Yoshe Angela menjadi narasumber selanjutnya dan membahas digital culture. “Terdapat nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika ketika berinteraksi di ruang digital. Cinta kasih merupakan nilai utama, dan kesetaraan dijunjung tinggi dalam memperlakukan orang lain dengan adil dan manusiawi. Ada pun keharmonisan yang mengutamakan kepentingan Indonesia di atas kepentingan pribadi dan golongan, dan sikap demokratis yang memberi kesempatan kepada setiap orang untuk bebas berekpresi. Gotong royong pun perlu diimplementasikan dalam bentuk bersama-sama membangun ruang digital yang aman dan etis bagi setiap pengguna,” ia paparkan. Selain itu, ia juga mengingatkan bahwa dampak rendahnya pemahaman nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika adalah tidak mampu membedakan informasi publik dengan pelanggaran privasi di ruang digital, yang berpotensi mengancam persatuan bangsa bila dibiarkan terus terjadi.

Dr. Lisa Adhrianti, S.Sos., M.Si. memaparkan data bahwa “Dari ribuan kasus kejahatan siber, 1,158 kasus di antaranya merupakan kasus penipuan, dan 267 merupakan kasus akses ilegal.” Keamanan digital adalah proses untuk memastikan penggunaan layanan digital, baik secara daring maupun luring, dapat dilakukan secara aman dan nyaman. Selain melakukan proteksi perangkat digital dengan baik, “Pengguna media digital harus cermat melakukan transaksi online, yaitu cermat dalam mengakses fitur dan layanan platform transaksi daring, cermat melakukan seleksi informasi saat transaksi daring, cermat menganalisis informasi yang muncul dalam transaksi daring, cermat melakukan verifikasi informasi selama transaksi daring, cermat mendistribusikan informasi selama melakukan transaksi daring, dan cermat berkolaborasi dengan penjual maupun pembeli lainnya,” ia tegaskan kembali.

Pertanyaan yang menarik saat sesi tanya-jawab adalah “Bagaimana membedakan website phishing dengan website yang asli atau terpercaya, mengingat kebanyakan orang tidak teliti dalam membaca?” Muhammad Bima Januri, S.T., M.Kom. kemudian menjawab  “Jika ada website yang tidak sesuai, maka cek alamat URL-nya. Bisa jadi alamat URL tersebut palsu, lalu liat shield browser, maka browser akan memberitahukan tingkat keamanannya dengan https atau logo hijau. Juga, selalu update browser terbaru.”

Seperti yang dikatakan oleh Presiden Joko Widodo, “Literasi digital adalah kerja besar. Pemerintah tidak bisa bekerja sendirian. Perlu mendapatkan dukungan seluruh komponen bangsa agar semakin banyak masyarakat yang melek digital.” Ia juga memberikan apresiasi pada seluruh pihak yang terlibat dalam Program Literasi Digital Nasional. “Saya harap gerakan ini menggelinding dan terus membesar, bisa mendorong berbagai inisiatif di tempat lain, melakukan kerja-kerja konkrit di tengah masyarakat agar makin cakap memanfaatkan internet untuk kegiatan edukatif dan produktif,” ujar Presiden Joko Widodo.

Seri webinar Indonesia #MakinCakapDigital terbuka bagi siapa saja yang ingin menambah wawasan dan pengetahuan mengenai literasi digital, sehingga sangat diharapkan partisipasi aktif dari seluruh lapisan masyarakat. Rangkaian webinar ini akan terus diselenggarakan hingga akhir 2021, dengan berbagai macam tema yang pastinya mendukung kesiapan masyarakat Indonesia dalam bermedia digital secara baik dan etis. Para peserta juga akan mendapatkan e-certificate atas keikutsertaan webinar. Untuk info lebih lanjut, silakan pantau akun Instagram @siberkreasi.dkibanten.