Press Release
October
11
2021
     11:30

Kenali Ciri-Ciri dan Hindari 3 Jenis Informasi yang Tidak Akurat

Kenali Ciri-Ciri dan Hindari 3 Jenis Informasi yang Tidak Akurat

KONTAN.CO.ID - Internet adalah sebuah sistem komunikasi global yang menghubungkan komputer-komputer dan jaringan komputer di seluruh dunia. Website merupakan kumpulan halaman web yang dapat diakses secara publik dan saling terkait yang berbagi satu nama domain, dapat dibuat dan dikelola oleh individu, grup, atau organisasi untuk melayani berbagai tujuan. Mereka pun memiliki variasi yang hampir tidak ada habisnya, termasuk situs pendidikan, situs berita, forum, situs media sosial, dan situs e-commerce. Terkait itu, konten yang tersebar melalui website-website ini pun dapat berupa informasi yang memang positif ataupun negatif, sehingga kita harus berhati–hati terhadap 3 jenis informasi yang tidak akurat, yaitu misinformasi, disinformasi dan mal-informasi.

Menyikapi hal itu, maka lembaga Kominfo bekerja sama dengan Jaringan Pegiat Literasi Digital (Japelidi) dan Siberkreasi Gerakan Nasional Literasi Digital dalam menggelar webinar dengan tajuk “Bijak Bermedia Sosial: Jangan Asal Sebar di Internet”. Webinar yang digelar pada Senin, 4 Oktober 2021, pukul 13:00-15:30 diikuti oleh sejumlah peserta secara daring.

Dalam forum tersebut hadir Akhmad Nasir, S.Sos. (Direktur DOT Studio), Ari Ujianto (Penggiat Advokasi Sosial), Aidil Wicaksono (Founder Kaizen Room), Dia Mawesti (Sustainable Finance Specialist), dan Suci Patia (Penulis) selaku narasumber.

Dalam pemaparannya, Akhmad Nasir, S.Sos. menyampaikan informasi penting bahwa “Kita harus berhati–hati terhadap 3 jenis informasi yang tidak akurat yaitu misinformasi, disinformasi, dan mal-informasi. Misinformasi adalah informasi salah yang disebarkan oleh orang yang mempercayainya sebagai hal yang benar, tanpa niat manipulatif atau jahat. Disinformasi adalah informasi salah yang disebarkan oleh orang yang tahu bahwa informasi itu salah dan dibuat untuk merugikan orang lain. Mal-informasi merupakan informasi yang berdasarkan realitas tapi digunakan untuk merugikan orang, organisasi, atau negara lain. Terkait itu, penting bagi kita untuk kenali ciri–ciri hoax, yaitu diawali dengan kata sugestif dan heboh, terdengar tidak masuk akal, tidak muncul di media arus utama biasanya dan hanya beredar melalui pesan singkat atau situs yang tidak jelas kepemilikannya, dan biasanya disertai dengan penulisan huruf kapital dan tanda seru.”

Suci Patia selaku narasumber Key Opinion Leader juga menyampaikan bahwa ruang digital adalah ruang yang sangat besar. Sampai saat ini, tindak plagiarisme sering sekali ditemukan dalm  bentuk mem-post tulisan dan story di instagram tanpa mencantumkan nama di story. Plagiarisme menjadikan orang malas untuk menulis dan ini merupakan halyang tidak sehat. Masih harus dipelajari bagaimana caranya dari penerbit soal plagiarism tulisan dari platform digital dan ditetapkan ketentuannya, tetapi ia juga menyadari bahwa mustahil untuk bisa mengontrol semua orang di internet. Intinya, harus ada sistem yang menyelesaikan masalah ini.

Para partisipan yang hadir juga dipersilahkan untuk mengutarakan pertanyaan dan tanggapan. Salah satu peserta bernama Fita Rofiana menyampaikan pertanyaan “Bagaimana jika kita ingin melakukan promosi atau suatu sharing informasi kebaikan, tetapi ada pihak yang ingin mendoktrin pikiran masyarakat dengan membuat informasi palsu /hoax, dan karena keluarga saya selalu percaya dengan berita yang membuat mereka khawatir, ditambah lagi dengan kecakapan masyarakat dalam meneliti dan membaca situasi minim?

Pertanyaan tersebut pun dijawab dengan lugas oleh Akhmad Nasir, S.Sos., bahwa “Pertama kita harus sadari bahwa tidak bisa mencegah orang menyebarluaskan hoax. Namun, hal yang bisa kita lakukan adalah mengajak orang terdekat kita untuk memperkuat diri agar lebih tahan dengan adanya berita palsu dan hoax. Andaikan hoax itu adalah sebuah virus, dan kita perkuat imunitas untuk keluarga dan orang terdekat.  Kalau konteks informasi yang kita bicarakan, literasi digital merupakan salah satu langkah terbaik dalam menyaringnya. Jangan sampai pengetahuan dan informasi mengenai literasi digital berhenti di kita; harus ada tindak lanjutan yang bersifat konkrit yang bisa kita tularkan ke orang terdekat kita.”

Webinar ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan literasi digital di Kota Jakarta Barat. Kegiatan ini pun terbuka bagi semua orang yang berkeinginan untuk memahami dunia literasi digital. Untuk itulah penyelenggara pada agenda webinar selanjutnya, membuka peluang sebesar-besarnya kepada semua anak bangsa untuk berpartisipasi pada webinar ini melalui akun Instagram @siberkreasi.dkibanten. Juga, bagi yang ingin mengetahui tentang Gerakan Nasional Literasi Digital secara keseluruhan bisa ikuti akun Instagram @siberkreasi.

Kegiatan webinar ini juga turut mengapresiasi partisipasi dan dukungan semua pihak, sehingga dapat berjalan dengan baik, mengingat program literasi digital ini hanya akan sukses mencapai target 12,5 juta partisipan jika turut didukung oleh semua pihak yang terlibat.


Tags Kominfo