Press Release
December
19
2021
     11:47

Selain Positif, Kemajuan Digital Memiliki Dampak Negatif

Selain Positif, Kemajuan Digital Memiliki Dampak Negatif

KONTAN.CO.ID - Kabupaten Pandeglang, 29 November 2021 Tak dapat dipungkiri, perkembangan dunia digital telah menyasar ke segala sisi kehidupan. Saat ini, rasanya hampir tidak ada sisi kehidupan manusia yang tidak terpengaruh proses digitalisasi.

Namun, masih banyak pengguna internet yang hanya mampu menerima informasi tanpa kemampuan memahami dan mengolah informasi tersebut secara baik, sehingga masih banyak masyarakat terpapar oleh informasi yang tidak benar.

Menyikapi hal itu, maka baru-baru ini Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menggelar seri webinar literasi digital #MakinCakapDigital dengan tema "Melawan Provokasi Di Dunia Digital Dengan Bijak". Webinar yang digelar pada Senin, 29 November 2021 di Kabupaten Pandeglang, diikuti oleh puluhan peserta secara daring.

Webinar ini mengundang narasumber dari berbagai bidang keahlian dan profesi, yakni Yolanda Presiana Desi, S.I.P., M.A. - Dosen Sekolah Tinggi Multi Media MMTC Yogyakarta, Japelidi, Diana Balienda - Founder DND Culinery, Dr. Rusdiyanta, S.I.P., S.E., M.Si - Dosen Universitas Budi Luhur dan Fransiska Desiana Setyaningsih, M.Si - Dosen Unika Widya Mandira Kupang, Japelidi.

Tema yang dibahas oleh masing-masing narasumber meliputi digital skills, digital ethics, digital culture, dan digital safety. Yolanda Presiana membuka webinar dengan mengatakan, provokasi adalah perbuatan untuk membangkitkan kemarahan, tindakan menghasut, penghasutan dan pancingan.

"Hate speech di dalam UU ITE Pasal 28 ayat 2 menyebutkan, setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA)," katanya.

Provokasi juga erat kaitannya dengan infomasi bohon (hoax). Ciri-cirinya yakni kalimat dimulai dengan judul yang heboh, berlebih-lebihan, provokatif, dan diakhiri dengan tanda seru. Huruf kapital digunakan secara serampangan dan kadang menggunakan warna mencolok. Kualitas foto dan grafis lainnya buruk. Isi tidak masuk akal.

Diana Balienda menambahkan, teknologi hadir untuk memudahkan kehidupan kita. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa kemajuan-kemajuan teknologi yang ada menciptakan tantangan baru bagi masyarakat digital.

Kita semua tahu bahwa munculnya teknologi sebetulnya didasarkan pada niat baik yang bertujuan untuk mempermudah kehidupan manusia, baik itu dalam beraktivitas sehari-hari maupun aktivitas lainnya.

"Sayangnya, bahwa kemajuan yang ada justru juga memiliki dampak negatif, yang menjadi sebuah tantangan baru yang dihadapi oleh kita semua sebagai masyarakat digital," tuturnya. Salah satu dampak negatifnya adalah peredaran konten negatif.

Motivasi para penyebar konten negatif dilandasi kepentingan ekonomi (mencari uang), politik (menjatuhkan kelompok politik tertentu), mencari kambing hitam, dan memecah belah masyarakat (berkaitan suku agama ras dan antargolongan/SARA).

Berita bohong atau hoaks adalah informasi yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dibuat seolah-olah benar adanya. Bertujuan membuat masyarakat merasa tidak aman, tidak nyaman, dan kebingungan. Dalam kebingungan, masyarakat akan mengambil keputusan yang lemah, tidak meyakinkan, dan bahkan salah.

"Jadilah milenial yang bijak dalam menggunakan sosial media. Jadilah pemutus konten negatif, sebarkan konten Positif. Ingatlah, bahwa jejak digital mungkin saja tidak akan bisa dihapus, selamanya. Mari sampaikan dengan bijak, sopan, dan santun serta mengikuti etika sekaligus peraturan yang berlaku," ungkapnya.

Dr. Rusdiyanta turut menjelaskan, kriteria konten provokasi yakni memancing emosi, menggiring opini, mengandung framing atau pembingkaian, menempatkan target pembaca, ada pihak yang didiskreditkan, ada ajakan untuk menyebarkan.

"Pemanfaatan teknologi digital yang tidak pada tempatnya justru menurunkan tingkat produktivitas. Munculnya kecenderungan sifat adiktif terhadap internet dapat menimbulkan gangguan fisik dan mental, berkurangnya batas-batas privasi dan infiltrasi budaya asing," ungkapnya.

Sebagai pembicara terakhir, Fransiska Desiana mengatakan, dunia digital adalah dunia yang tanpa batas. Informasi mudah diperoleh, mudah pula disebarluaskan, termasuk yang sifatnya provokasi. Butuh tanggung jawab saat berinteraksi di dunia digital, agar tercipta keamanan bermedia digital.

"Biasakan membaca dengan teliti setiap informasi yang diterima atau yang akan dibagikan. Identifikasi sumber informasi, waktu dan tempat kejadian serta tautan link

yang diperoleh. Jangan terpancing konten yang mengajak untuk menyebarkan hoax atau ujaran kebencian. Ambil waktu untuk melakukan detoks media sosial," pesannya.

Dalam sesi KOL, Fahri Azmi mengatakan, dalam menangkal provokasi adalah jangan asal menyebarkan informasi tanpa tau kebenarannya, saring dulu sebelum sharing, dan dengan literasi digital ini juga kita banyak belajar dan banyak tahu tentang dunia digital.

"Kita harus menyikapi dan melawan konten- konten negatif. Jika kita tidak bisa melakukan hal itu kita bisa meminimalisir dengan cara tidak menyebarluaskan konten-konten tersebut. Lebih baik kita mengembangkan skill dan pengetahuan untuk bisa menjadi pribadi yang lebih baik," katanya.

Dalam webinar ini, para partisipan yang hadir juga dipersilahkan untuk mengutarakan pertanyaan dan tanggapan. Salah satu peserta bernama Kiki Wulandari menanyakan, langkah apa yang harus dilakukan agar generasi emas bangsa kita ini dapat cerdas bermedia digital dan sesuai dengan kecakapan digital?

"Kecakapan digital bukan sesuatu yang instan karena itu adalah berupa kompetensi yang harus dibiasakan. Faktor penting dalam hal ini adalah orang-orang sekitar. Untuk membentuk kecakapan digital adalah semua elemen yang kita lakukan harus berkolaborasi dan harus ada peran penting oleh orang-orang sekitar dan tentunya diri sendiri juga," jawab Yolanda.

Webinar ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan literasi digital di Kabupaten Pandeglang. Kegiatan ini pun terbuka bagi semua orang yang berkeinginan untuk memahami dunia literasi digital. Untuk itulah penyelenggara pada agenda webinar selanjutnya, membuka peluang sebesar-besarnya kepada semua anak bangsa untuk berpartisipasi pada webinar ini melalui Instagram @siberkreasi.dkibanten dan @siberkreasi.

Kegiatan webinar ini juga turut mengapresiasi partisipasi dan dukungan semua pihak, sehingga dapat berjalan dengan baik, terutama kepada Kominfo. Mengingat program literasi digital ini hanya akan berjalan dengan baik dan mencapai target 12,5 juta partisipan, jika turut didukung oleh semua pihak.


Tags Kominfo

Terbaru

Banyak Efek Positif Dari Perkembangan Teknologi

KOMINFO | Senin, 20 Desember 2021 | 12:15 WIB

Selain Positif, Kemajuan Digital Memiliki Dampak Negatif

KOMINFO | Minggu, 19 Desember 2021 | 11:47 WIB

Digitalisasi Membawa Perubahan Dalam Kehidupan Masyarakat

KOMINFO | Minggu, 19 Desember 2021 | 11:40 WIB

Media Digital Bisa Digunakan Sebagai Ruang Diskusi

KOMINFO | Minggu, 19 Desember 2021 | 11:28 WIB

Terjadi Pergeserean Pola Pikir di Masyarakat

KOMINFO | Minggu, 19 Desember 2021 | 11:22 WIB

Cyberbullying Meninggalkan Jejak Digital

KOMINFO | Minggu, 19 Desember 2021 | 11:15 WIB

Netiket Sangat Penting di Media Digital

KOMINFO | Minggu, 19 Desember 2021 | 11:05 WIB

Internet Bagai Pisau Bermata Dua

KOMINFO | Minggu, 19 Desember 2021 | 10:55 WIB