Press Release
June
09
2021
     13:19

Melawan Kesenjangan Digital Demi Masyarakat Indonesia yang Lebih Sejahtera

Melawan Kesenjangan Digital Demi Masyarakat Indonesia yang Lebih Sejahtera

Jakarta, 8 Juni 2021– Secara umum, literasi digital sering kita anggap sebagai kecakapan menggunakan internet dan media digital. Namun begitu, acap kali ada pandangan bahwa kecakapan penguasaan teknologi adalah kecakapan yang paling utama. Padahal literasi digital adalah sebuah konsep dan praktik yang bukan sekadar menitikberatkan pada kecakapan untuk menguasai teknologi. Seorang pengguna yang memiliki kecakapan literasi digital yang bagus tidak hanya mampu mengoperasikan alat, melainkan juga mampu bermedia digital dengan penuh tanggung jawab.

Dengan diluncurkannya Program Literasi Digital Nasional, Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa “Infrastruktur digital tidak berdiri sendiri; saat jaringan internet sudah tersedia, harus diikuti kesiapan-kesiapan penggunanya agar manfaat positif internet dapat dioptimalkan untuk membuat masyarakat semakin cerdas dan produktif.”

Dalam rangka mendukung Program Literasi Digital Nasional, Kominfo bekerja sama dengan Jaringan Pegiat Literasi Digital (Japelidi) dan Siberkreasi Gerakan Nasional Literasi Digital untuk meluncurkan Seri Modul Literasi Digital yang memfokuskan pada empat tema besar; Cakap Bermedia Digital, Budaya Bermedia Digital, Etis Bermedia Digital, dan Aman Bermedia Digital. Diharapkan dengan adanya seri modul ini, masyarakat Indonesia dapat mengikuti perkembangan dunia digital secara baik, produktif, dan sesuai nilai-nilai yang dijunjung tinggi dalam kehidupan berbudaya, berbangsa, dan bernegara.

Proses sosialisasi dan pendalaman Seri Modul Literasi Digital dilakukan dalam ranah media digital pun, dalam bentuk seri webinar Indonesia #MakinCakapDigital yang menjangkau sebanyak 514 Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia. Pada Selasa, 8 Juni 2021 pukul 13:00-15:00 WIB, webinar dengan tema “Pemahaman Literasi Digital untuk Kehidupan Sosial” diselenggarakan khusus bagi 14 Kabupaten/Kota di wilayah DKI Jakarta dan Banten. Webinar ini mengundang narasumber dari berbagai bidang keahlian dan profesi, yaitu A. Zul Chaidir Ashari (Kaizen Room), Lisa Esti Puji Hartanti, S.Sos., M.Si. (Dosen Atma Jaya Jakarta & Japelidi), Riri Khariroh (Aktivis Perempuan), dan Dr. Lisa Adhrianti, M.Si. (Dosen Universitas Bengkulu & Japelidi).

Tema yang dibahas oleh masing-masing narasumber meliputi digital skills, digital ethics, digital culture, dan digital safety. Narasumber pertama, A. Zul Chaidir Ashari, berbicara tentang digital skills, terutama mengenai mengenal berbagai jenis data pribadi yang dilindungi menurut UU No. 23 Tahun 2006 tentang Dokumen Kependudukan, khususnya Pasal 84. “Jangan pernah kita mengirimkan informasi pribadi sensitive melalui jaringan publik,” himbaunya terkait informasi pribadi dan media digital. Ia tambahkan bahwa “5,5% masyarakat Indonesia masih menganggap semua informasi yang beredar di internet dapat dipercaya. Tentunya tidak semua hasil penelusuran mesin pencarian informasi itu benar dan diperlukan kompetensi kritis pengguna untuk dapat menyaring informasi yang diperoleh. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain percayai informasi hanya dari sumber atau media yang kredibel, cek nama domain dan pastikan bahwa ia situs resmi bukan domain gratis, serta bandingkan informasi dari berbagai sumber yang berbeda,” tambahnya.

Lisa Esti Puji Hartanti, S.Sos., M.Si. melanjutkan webinar dengan membahas mengenai Segitiga Etika Digital yang terdiri dari subjek, audiens, dan pencipta. “(Hal) yang kita hasilkan di dalam bentuk dunia maya dapat mempengaruhi kehidupan di dunia nyata,” ia katakan. “Prinsip etis bermedia sosial ada 4 (empat), yaitu kesadaran (menyempatkan dan menyediakan waktu untuk berpikir sebelum berinteraksi dan berpartisipasi), integritas (kejujuran dan autentisitas), tanggung jawab (rela dikonfirmasi dan siap atas konsekuensi), serta kebajikan (peduli dengan kemanusiaan, menjaga martabat sebagai dan sesama manusia)” ia tambahkan dalam pemaparannya.

Riri Khariroh semakin mendalami tema webinar dengan menjelaskan mengenai peran penting teknologi digital bagi perempuan. Ia mengawali penjelasannya dengan fakta bahwa adanya digital divide antara laki-laki dan perempuan, yaitu gap di dalam mengakses sumber-sumber digital. “Penguunaan teknologi digital di Indonesia masih didominasi oleh laki-laki. Komposisi pengguna internet menurut jenis kelamin menunjukan 48,57% untuk perempuan dan 51,43% untuk laki-laki. Masih banyak perempuan Indonesia yang belum mengetahui bagaimana menggunakan teknologi digital secara efektif,” ia nyatakan saat memaparkan data yang ia peroleh. Hal tersebut bisa terjadi karena beberapa faktor, antara lain kekhawatiran akan online safety dan budaya patriarki. “Oleh karena itu, perlu adanya pemberdayaan perempuan melalui literasi digital yang meliputi beberapa aspek; akses terhadap informasi digital, memotivasi mereka untuk menggunakan teknologi, perempuan dituntut untuk menggunakan media secara aktif dan percaya diri, kemampuan perempuan menggunakan media digital untuk membantu memecahkan masalah, serta mengubah peran-peran gender yang bias dan diskriminatif. Perempuan yang melek digital dapat meningkatkan kesejahteraan dirinya, keluarganya, dan masyarakat,” ia tambahkan.

Dr. Lisa Adhrianti, M.Si. dalam pemaparannya mengajak peserta untuk “Jadilah pengguna media digital yang baik dengan peduli terhadap keamanan digital.” Ia menjelaskan pentingnya memahami dua macam identitas digital (yang terlihat dan yang tidak terlihat), serta memberikan petunjuk bagaimana memproteksi perangkat digital. “Dalam perangkat digital kita tersimpan beragam informasi penting, mulai dari galeri foto dan video pribadi, daftar kontak, sampai data-data keuangan yang diperlukan bertransaksi, termasuk uang digital. Karena pentingnya isi dalam perangkat digital, teknologi ini sering menjadi incaran upaya peretasan,” tambahnya. Ia pun penutup pemaparannya dengan beberapa rekomendasi, yaitu pastikan memilih perangkat digital yang resmi, teliti sebelum memiliki dengan mengecek kesesuaian kode perangkat, biasakan untuk membaca buku panduan untuk lebih mengenali perangkat, dan pilihlah kata sandi dengan tingkatan paling aman dan mudah diingat.

Antusiasme peserta terhadap tema webinar terlihat dari berbagai pertanyaan yang dilontarkan saat sesi tanya jawab. Salah satu pertanyaan yang diajukan adalah mengenai cara menjelaskan literasi digital kepada anak yang di bawah umur, mengingat saat ini anak di bawah umur sangat aktif dalam menggunakan sosmed. Selanjutnya, ada peserta yang bertanya mengenai solusi dari bidang akademis untuk mempersempit gap literasi digital yang ada, baik secara teknologi maupun secara kebijakan.

Seperti yang dikatakan oleh Presiden Joko Widodo, “Literasi digital adalah kerja besar. Pemerintah tidak bisa bekerja sendirian. Perlu mendapatkan dukungan seluruh komponen bangsa agar semakin banyak masyarakat yang melek digital.” Ia juga memberikan apresiasi pada seluruh pihak yang terlibat dalam Program Literasi Digital Nasional. “Saya harap gerakan ini menggelinding dan terus membesar, bisa mendorong berbagai inisiatif di tempat lain, melakukan kerja-kerja konkrit di tengah masyarakat agar makin cakap memanfaatkan internet untuk kegiatan edukatif dan produktif,” ujar Presiden Joko Widodo.

Seri webinar Indonesia #MakinCakapDigital terbuka bagi siapa saja yang ingin menambah wawasan dan pengetahuan mengenai literasi digital, sehingga sangat diharapkan partisipasi aktif dari seluruh lapisan masyarakat. Rangkaian webinar ini akan terus diselenggarakan hingga akhir 2021, dengan berbagai macam tema yang pastinya mendukung kesiapan masyarakat Indonesia dalam bermedia digital secara baik dan etis. Para peserta juga akan mendapatkan e-certificate atas keikutsertaan webinar. Untuk info lebih lanjut, silakan pantau akun Instagram @siberkreasi.dkibanten.


Terbaru