Press Release
June
05
2021
     16:14

Puluhan Ribu Situs Berpotensi Sebarkan Misinformasi, Perlu Tingkatkan Kewaspadaan

Puluhan Ribu Situs Berpotensi Sebarkan Misinformasi, Perlu Tingkatkan Kewaspadaan

Jakarta, 5 Juni 2021– Secara umum, literasi digital sering kita anggap sebagai kecakapan menggunakan internet dan media digital. Namun begitu, acap kali ada pandangan bahwa kecakapan penguasaan teknologi adalah kecakapan yang paling utama. Padahal literasi digital adalah sebuah konsep dan praktik yang bukan sekadar menitikberatkan pada kecakapan untuk menguasai teknologi. Seorang pengguna yang memiliki kecakapan literasi digital yang bagus tidak hanya mampu mengoperasikan alat, melainkan juga mampu bermedia digital dengan penuh tanggung jawab.

Dengan diluncurkannya Program Literasi Digital Nasional, Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa “Infrastruktur digital tidak berdiri sendiri; saat jaringan internet sudah tersedia, harus diikuti kesiapan-kesiapan penggunanya agar manfaat positif internet dapat dioptimalkan untuk membuat masyarakat semakin cerdas dan produktif.”

Dalam rangka mendukung Program Literasi Digital Nasional, Kominfo bekerja sama dengan Jaringan Pegiat Literasi Digital (Japelidi) dan Siberkreasi Gerakan Nasional Literasi Digital untuk meluncurkan Seri Modul Literasi Digital yang memfokuskan pada empat tema besar; Cakap Bermedia Digital, Budaya Bermedia Digital, Etis Bermedia Digital, dan Aman Bermedia Digital. Diharapkan dengan adanya seri modul ini, masyarakat Indonesia dapat mengikuti perkembangan dunia digital secara baik, produktif, dan sesuai nilai-nilai yang dijunjung tinggi dalam kehidupan berbudaya, berbangsa, dan bernegara.

Proses sosialisasi dan pendalaman Seri Modul Literasi Digital dilakukan dalam ranah media digital pun, dalam bentuk seri webinar Indonesia #MakinCakapDigital yang menjangkau sebanyak 514 Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia. Pada Jumat, 4 Juni 2021 pukul 09:00-12:00 WIB, webinar dengan tema “Eksplorasi Media Digital dalam Kehidupan Sosial” yang diikuti sebanyak 81 peserta diselenggarakan khusus bagi 14 Kabupaten/Kota di wilayah DKI Jakarta dan Banten. Webinar ini mengundang narasumber dari berbagai bidang keahlian dan profesi, yaitu Ade Irma Sukmawati, M.A (Japelidi), Teguh Ssantoso (CEO RMOL Network), Anang Dwi Santoso, SIP, MPA (IAPA), dan Nia Saranastiti (Pakar Marketing Komunikasi).

Tema yang dibahas oleh masing-masing narasumber meliputi digital skills, digital ethics, digital culture, dan digital safety yang terrbagi dalam 4 pokok permasalahan: Mengenal Macam-Macam Aplikasi Percakapan, Perbedaan, dan Fitur-fiturnya, Penggunaan Bahasa yang Baik di Dunia Digital, Bijak Di Kolom Comment, serta Dunia Maya dan Rekam Jejak Digital.

Nia Saranastiti mengawali webinar dengan membahas digital safety, yang ia maknai sebagai sebuah proses untuk memastikan penggunaan yang lebih bijak. Ia mengangkat kasus dugaan pembobolan 230 ribu pasien Covid-19 RI sebagai contoh bahaya kejahatan digital, dan mengingatkan bahwa “Masyarakat harus lebih berhati-hati dalam penggunaan sosial media dan memakai fitur keamanan digital untuk melindungi privasi dan keamanan data.”

Dengan pemaparan yang berjudul “Kecakapan dalam Bermedia Digital”, Ade Irma Sukmawati, M.A menyatakan bahwa walau Data Penggunaan Internet telah menginjak angka 175,4 milyar dengan tingkat penetrasi sebesar 64%, Indonesia menempati posisi ke-114 dunia atau kedua terendah di G20 setelah India (ICT Development Index 2017). Menurutnya, hal ini merupakan faktor penting untuk mendorong urgensi pentingnya cakap bermedia digital.

How to Deal with Cyber Media” menjadi judul pemaparan Teguh Santoso, di mana ia menjelaskan pentingnya memilah informasi. “Sebagai sebuah platform yang nyaris tak terbatas, internet memiliki kemampuan menampung hampir semua informasi di muka bumi. Hal yang mesti dibedakan di platform adalah berupa karya pers atau bukan karya pers. Menurut data Kominfo Tahun 2017, ada sekitar 43 ribu website yang beroperasi ‘layaknya’ perusahaan pers. Angka ini melonjak menjadi sekitar 51 ribu di tahun 2020,” jelasnya. Selain itu, ia juga mengapresiasi Piagam Pelambang 2010, yang merupakan penghargaan terhadap komitmen untuk membangun ekosistem pers yang profesional.

Anang Dwi Santoso, SIP, MPA menjadi narasumber terakhir yang bicara soal digital ethics. Ada beberapa hal yang menjadi kompetensi digital ethics, yaitu etika berinternet, pengetahuan mengenai informasi, dan berinteraksi. “Etika adalah sistem nilai dan norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau sekelompok orang,” ujarnya saat membahas etika berkomunikasi di e-mail dan media sosial.  “Salah satu cara memverifikasi informasi adalah menggunakan Google News, dan salah satu cara mengatasi cyberbullying adalah jangan berikan detail pribadi serta pelajari tentang pengaturan privasi di media sosial,” ia tambahkan sebagai tips penggunaan media digital.

Webinar diakhiri dengan sesi tanya-jawab dari peserta yang terlihat antusias mendalami tema besar “Literasi Digital Kecanduan Ruang Digital Dalam Ruang Sosial”. Beberapa di antara mereka mengajukan pertanyaan untuk mendapatkan pemaparan lebih detail mengenai berita clickbait dan penggiringan opini, strategi digital marketing, serta pemberian edukasi digital skills kepada anak Sekolah Dasar, mengingat lingkungannya sudah mengenal dunia media sosial.

Seperti yang dikatakan oleh Presiden Joko Widodo, “Literasi digital adalah kerja besar. Pemerintah tidak bisa bekerja sendirian. Perlu mendapatkan dukungan seluruh komponen bangsa agar semakin banyak masyarakat yang melek digital.” Ia juga memberikan apresiasi pada seluruh pihak yang terlibat dalam Program Literasi Digital Nasional. “Saya harap gerakan ini menggelinding dan terus membesar, bisa mendorong berbagai inisiatif di tempat lain, melakukan kerja-kerja konkrit di tengah masyarakat agar makin cakap memanfaatkan internet untuk kegiatan edukatif dan produktif,” ujar Presiden Joko Widodo.


Tags Kominfo

Terbaru